Selasa, 12 Oktober 2010

Anakku Sayang

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberikan pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur." (QS.An-Nahl: 78)

Seorang anak dilahirkan ke dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada awalnya tidak memiliki pengetahuan barang sedikitpun dan memiliki kondisi fisik yang lemah untuk melakukan tindakan, bahkan untuk dirinya sendiri. Namun dalam tubuhnya yang lemah itulah Allah SWT memberikan kepadanya "potensi besar" yang dalam perkembangannya nanti akan sangat mempengaruhi kehidupannya. Potensi-potensi itu berupa kemampuan untuk mendengar, melihat dan merasakan sesuatu yang menyenangkan atau menyedihkan, menilai sesuatu yang indah atau jelek dan bahkan pada tingkat mampu membedakan yang haq dan bathil. Dan potensi inilah yang akan membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Potensi yang sangat berharga itu tentu saja tak akan berkembang dengan sendirinya. la memerlukan penanganan secara langsung dan terus-menerus agar potensi itu dapat berkembang secara alami dan sesuai dengan masanya. Dan posisi inilah seorang ibu memiliki peran strategis untuk menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan tersebut.

Seorang ibu yang baik tentu saja akan memberikan perhatian yang intensif terhadap pertumbuhan potensi tersebut. Semakin besar diberikan maka semakin cepatlah tingkat pengalaman, pemahaman dan emosi seorang anak.

Belaian seorang ibu terhadap anaknya akan membawa arti yang sangat dalam bagi pertumbuhan jiwa anak. Anak akan merasakan kehangatan dan perlindungan dari seseorang yang dekat dengannya. Apalagi jika seorang bayi mendapat respon khusus dan cepat dari kedua orangtuanya, maka kedekatan dirinya dengan sumber kehangatan akan semakin meningkat yang pada akhirnya menumbuhkanrasa cinta dan perhatian.

Rasulullah SAW telah mencium Al-Hasan bin Ali, sedangkan ketika itu di sisi beliau duduk Al-Aqra"bin Hadits At-Tamini. Al-Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satupun diantara mereka yang pemah aku cium." Maka Rasulullah memandangnya dan bersabda, "Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi." (HR.Bukhori dari Abu Hurairah )

Hadist di atas menunjukkan bahwa sentuhan langsung yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya, amat berpengaruh terhadap tumbuhnya rasa kasih sayang antar keduanya. Anak merasakan kehangatan dan fitrah yang hanif telah bersentuhan dengan wujud kasih sayang yang diberikan melalui sentuhan tangan.

Apalagi jika kasih sayang itu tidak hanya diwujudkan dengan sentuhan semata, melainkan dengan keikhlasan yang mendalam ketika merawatnya dan memberikan perhatian psikologis yang besar dan mendasar, maka interaksi kasih sayang itu tidak akan hilang ditelan usia. Ironisnya, banyak orang tua yang mengeluh lantaran anak-anak mereka lebih akrab dan dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya. Bahkan terkadang anak lebih merasa aman dan tergantung padanya (pembantu).

Hal di atas dapat terjadi karena tak utuhnya rasa kasih sayang yang diberikan pada orangtua kepada putra-putrinya. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya yang banyak menyita waktu dan tenaga. Padahal di sisi lain seorang anak membutuhkan kehadiran orangtua secara utuh baik fisik maupun psikisnya.

Kesibukan orangtua berkarier di luar rumah perlahan-lahan membuat jarak orangtua dengan anak, sehingga intensitas perhatian dan sentuhan lambat laun makin memperbesar jurang kasih sayang yang seharusnya tidak perlu terjadi itu.

Di tengah kebutuhan anak terhadap perhatian, muncullah seorang Bik Inem atau Mbok Pariyem yang menggantikan peran orangtua dalam kesehariannya. Ketika si Upik menangis minta mimik susu, pembantu itu dengan cekatan memenuhi keinginannya. Bahkan mereka tak segan-segan membersihkan kotoran si Ujang tanpa rasa geli atau sungkan. Hal itulah yang menyebabkan beralihnya rasa kasih sayang seorang anak pada pembantu yang telah merawatnya.

Di sisi lain yang amat mengkhawatirkan adalah tidak semua pembantu dibekali oleh pemahaman terhadap perkembangan anak, sehingga kita sering melihat mereka 'konvensional' dalam mengasuh anak-anak majikannya. Seakan-akan standar keberhasilan kerja para pembantu adalah sejauh mana seorang anak bisa 'diam', 'makan dan minum yang baik ' dan tidak rewel ketika bermain.

Para pembantu tidak dibekali pengetahuan bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak yang efektif, efisien dan benar. Hal ini terkadang menimbulkan masalah yang serius karena adanya perbedaan pendekatan yang dilakukan orangtua terhadap anaknya dibandingkan dengan pendekatan yang dilakukan oleh pembantu.

Terkadang seorang pembantu 'over protection' (terlalu banyak melindungi) terhadap anak yang diasuhnya, lantaran ia tak mau ambil resiko jika anak majikannya terluka karena keteledorannya. Anak majikan harus mulus rapih sebagaimana orangtuanya menitipkan. Atau bisa jadi ia berangkat dari pengalamannya yang lalu, saat pembantu diomeli 'boss' habis-habisan lantaran anaknya benjol kejedut tembok. Akibat dari keadaan ini pembantu selalu memenuhi keinginan anak majikannya sehingga ia manja dan amat tergantung padanya.

Bisa jadi malah sebaliknya, seorang pembantu bersikap lower protection' (rendah perlindungannya) terhadap amanah yang diberikan padanya. Anak kurang mendapat perlindungan dan pengawasan. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak yang tengah memasuki usia puberitas.

Pembantu tak mampu mengawasi mereka karena sikapnya yang cenderung agresif. Mereka akan mengancam atau berbuat sesuatu pada pembantu jika aktifitas negatifnya diadukan pada orangtua mereka. Sehingga jangan heran jika ada anak yang mengundang teman-temannya nonton blue film selagi orangtua mereka bekerja tanpa gangguan sedikitpun.

Sikap di atas mengajak anak pada kondisi 'mal adjustment' di mana anak tak mau kompromi dengan lingkungannya. Akibatnya, mereka membentuk lingkungan sendiri bersama teman-temannya yang senasib. Kenyataan ini tak jarang mengarahkan anak ke lembah yang seharusnya mereka jauhi dan tinggalkan. Mereka terlibat perkelahian 'geng', mabuk- mabukan sehingga meminta korban jiwa.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah majalah di Amerika menunjukkan bahwa hampir 75% dari jumlah responden ibu-ibu yang tidak bekerja setuju bahwa anak-anaknya berkembang semakin buruk jika kedua orangtuanya bekerja. Jawaban senada juga disampaikan oleh 50% dari ibu-ibu yang bekerja.

Kenyataan ini juga harus kita sadari sedini mungkin, sebab kita tentunya menginginkan anak-anak yang berkualitas intelektualnya dan mentalitasnya. Oleh karena itu kita harus menaruh perhatian yang besar dan menanamkan motivasi bahwa "Ia bocah hari ini dan pemimpin esok hari."

Tangan-tangan kitalah yang mengarahkan 'kiblat' generasi ini dengan segala pengorbanan jiwa, raga dan harta, lalu bagaimana Islam memberikan solusi bagi generasi mendatang yang tidak lain adalah anak-anak kita, bahkan cucu-cucu kita?


MENCETAK GENERASI QUR'ANI

Al Qur'an merupakan sumber utama dan pertama dalam Islam, kandungannya amat dalam dan luas, juga selalu relevan dengan masa sampai hari kiamat. Sebab ayat demi ayatnya adalah firman Allah yang Maha Benar dan Maha Tahu waktu yang lampau, sekarang dan yang akan datang. Para orangtua seharusnya selalu meletakkan landasan pendidikan anak-anaknya dengan berpegangan pada kitab suci ini tanpa keraguan sedikitpun.

Lantas bagaimana kita melakukannya, padahal melihat kenyataan banyak para orangtua muslim sendiri masih asing dengan Al Qur'an, baik asing karena belum bisa membaca Qur'an atau asing karena disamping belum dapat membaca kitab ini juga karena lingkungan yang tidak mendukung untuk dapat berinteraksi intensif dengan Al Qur'an. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan pada tahap-tahap awal dalam bersentuhan denagn Al Qur'an , yaitu :

1. Mendengarkan Al Qur'an

"Dan apabila dibacakan Al Qur'an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikan dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. 7 : 204), Rasulullah sendiri sangat gemar mendengarkan Al Qur'an.

2. Membaca Al Qur'an

Para ulama terdahulu, tidak henti-hentinya membaca dan memperdalam Al Qur'an dan membaca Al Qur'an juga merupakan salah satu tanda keimanan dan menjadi pembeda antara muslim dan kafir, firman Allah :

"Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup." ( QS. 17: 45)

3. Mentadabburi dan mengikuti Al Qur'an

"Ini adalah kitab Al Qur'an yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya (tadabbur) dan supaya menjadi pelajaran bagi mereka yang berfikir." ( QS. 38:29).

Al Qur'an memuat sangat banyak tentang pedoman pendidikan anak kita dari mulai mengenalkan Allah sampai bagaimana mencintai anak-anak kita, juga pada sejarah nabi kita dalam berinteraksi dengan anak-anak, Subhanallah nabi Muhammad SAW adalah suami dan ayah terbaik dimuka bumi ini. Jadi tidak ada alasan untuk mencari sumber terbaik bagi pedoman pendidikan anak-anak kita selain pada Al Qur'an dan Sunah nabi Muhammad SAW. Wallahu alam bish shawab.

0 komentar:

Posting Komentar